Friday, 23 January 2009

Maukah Anda Menjadi Seekor Anjing ?

Pagi itu, jam telah berdentang tujuh kali, yang menandakan saat itu adalah tepat pukul 7.00. Kontan saja saya berlari dan bersiap-siap secara kilat karena akan terlambat masuk kantor. Ketika sedang menuruni tangga rumah, tiba-tiba pandanganku beradu dengan tatapan anjing keluargaku. Mereka melihat diriku yang sedang terburu-buru, mungkin dalam benaknya mereka berpikir, “Kenapa majikanku terburu-buru ? Bukankah lebih enak tiduran padahal cuaca sedang mendung” namun saat itu pula diri saya yang sedang terburu-buru berpikir “Wah betapa enaknya anjingku, hanya jalan-jalan dan tiduran saja, makanan selalu siap dengan sendirinya tanpa pernah berusaha, tidak perlu mencari uang untuk masa depan, tidak memikirkan anak-anak yang dilahirkan, biaya rumah dsb”. Namun pemikiran tersebut berlari cepat menghilang seiring dengan larinya sang waktu di pagi hari yang cerah itu.
Lega rasanya karena setelah sampai dikantor ternyata waktu masih menunjukkan pukul 7.23. Bercanda dengan teman kantor menjadi menu sarapan jika jam kerja belum dimulai. Waktu yang tadinya berjalan dengan cepat kini berubah menjadi

selayaknya seekor siput, lambat sekali sehingga membuat pemikiran yang tadinya menghilang mulai merangkak naik untuk meminta jawaban yang pasti. Namun sebelum sempat dipikirkan, seolah-olah ada seorang yang berkata dalam hati saya bahwa menjadi manusia lebih enak karena mempunyai pilihan hidup yang lebih banyak daripada binatang. “Kenapa ? Bukankah semakin banyak pilihan semakin membingungkan ? “ sanggah sang otak kepada jawaban tersebut. Menjadi seorang manusia adalah sebuah kebanggaan tersendiri, karena mampu memperjuangkan apa yang menjadi keinginannya. Sebuah contoh saja, apakah seekor anjing dapat memakan yang diinginkan ? Tentu saja seekor anjing hanya dapat makanan yang disajikan oleh sang majikan bukan ? Apakah seekor anak anjing dapat mengatakan ingin bermain bola dengan manusia ? Tentu saja tidak bisa karena kebanyakan manusia tak dapat memahami bahasa binatang. Bukankah dengan semakin banyak pilihan membuat hidup seorang manusia lebih bermakna ? Bukankah lebih indah jika melihat ratusan “warna” dalam hidup kita daripada hanya melihat satu “warna” ?
Alasan lain kebanggaan menjadi manusia adalah dapat merasakan arti sebuah memberi dan diberi. Apakah seekor anjing akan berterima kasih atas apa yang diberikan kepadanya ? Apakah anjing pernah menjalani masa-masa pendekatan yang menegangkan sekaligus mengasikkan ? Tentu saja hanya manusia yang dapat merasakan hal tersebut. Jadi terimalah apa yang telah diberikan kepadamu, ambil selalu dari segi positif bahwa menjadi seorang manusia dapat berjuang untuk mewujudkan keinginannya, dan jangan melakukan pembandingan yang tidak pantas
Jawaban-jawaban tersebut menyadarkan saya bahwa pilihan menjadi seekor anjing adalah hal yang tidak bertanggung jawab, maka dari itu seolah-olah rasa syukur mengalir karena telah diciptakan menjadi seorang manusia yang berbudi pekerti. Dan lamunan tersebut buyar karena seorang rekan sekerja datang ke meja saya dengan file setumpuk yang tandanya saya harus kerja dengan keras. Ingat memperjuangkan dan mewujudkan apa yang menjadi keinginan kita, itulah manusia

salam hangat

0 comments: